Kali ini saya akan membahas mengenai "Organisasi dan kelompok". Sebelum saya membahas lebih jauh, alangkah baiknya jika saya memberi gambaran secara Mindmap mengenai pembahasan ini. Agar dengan mudah kamu memahami setiap subab yang ada.
Pengantar
Telah dikemukakan bahwa Organisasi (industri) dapat kita pandang sebagai suatu sistem yang terbuka, yaitu : “suatu kesatuan keseluruhan yang terorganisasi, yang terdiri dari dua atau lebih komponen atau subsistem. Kast & Rosenzweig memandang organisasi industri sebagai sistem sosio-teknikal, artinya sistem yang memiliki aspek-aspek sosial dan teknikal.
Organisasi industri terdiri darimkelompok-kelompok manusia (subsistem/komponen sosial) yang saling berinteraksi, yang batasnya dengan lingkungannya dapat ditemukenali, yang secara sambung menyambung berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam bab ini akan membahas kelompok manusia tenaga kerja, pengertiannya, jenis struktur, fungsi-fungsi dan prosesnya, interaksi antaranggota kelompok, dan interaksi antarkelompok.
Organisasi industri terdiri darimkelompok-kelompok manusia (subsistem/komponen sosial) yang saling berinteraksi, yang batasnya dengan lingkungannya dapat ditemukenali, yang secara sambung menyambung berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam bab ini akan membahas kelompok manusia tenaga kerja, pengertiannya, jenis struktur, fungsi-fungsi dan prosesnya, interaksi antaranggota kelompok, dan interaksi antarkelompok.
Pengertian
Dalam setiap kelompok dimana kita menjadi anggota, kita memainkan peran yang berbeda-beda, dengan tugas dan tanggung jawab yang berbeda-beda. Kita berada dalam interaksi yang bersinambung dengan lingkungan kita, khususnya orang-orang yang berada langsung disekitar kita.
Kelompok sosial yang akan dibahas adalah kelompok sosial yang berada dalam suatu organisasi kerja. Bagaimana timbulnya kelompok kerja tidak dapat dipisahkan dari proses timbulnya organisasi kerja atau organisasi industri.
Pemecahan satu pekerjaan dengan segala macam aspeknya menjadi berbagai macam pekerjaan yang menunjukkan adanya hubungan keterpautan antara pekerjaan-pekerjaan tersebut. Tenaga kerja yang melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut juga saling berkaitan dalam satu hubungan ketergantungan. Mereka saling memerlukan dan saling mempengaruhi.
Likert (1961,1967) berpendapat bahwa organisasi dapat dipandang sebagai sistem dari kelompok yang saling berkaitan.
Robbins (1988:71), kelompok terdiri dari dua atau lebih orang, yang saling mempengaruhi dan saling tergantung, yang datang bersama-sama untuk mencapai sasaran tertentu.
Secara Struktural, kelompok dapat dibedakan kedalam kelompok formal dan informal. Kelompok formal di beri batasan oleh struktur organisasi, yang berisi rincian tugas-tugas pekerjaan dan tanggung jawab tertentu, yang pelaksanaanya akan menuju ke tercapaiannya sasaran dan misi keseluruhan 1 organisasinya. kelompok informal tidak diberi batasan oleh struktur organisasi dan terjadi secara spontan antara sejumlah tenaga kerja, sebagai jawaban terhadap kebutuhan tertentu dari mereka.
Kelompok sosial yang akan dibahas adalah kelompok sosial yang berada dalam suatu organisasi kerja. Bagaimana timbulnya kelompok kerja tidak dapat dipisahkan dari proses timbulnya organisasi kerja atau organisasi industri.
Pemecahan satu pekerjaan dengan segala macam aspeknya menjadi berbagai macam pekerjaan yang menunjukkan adanya hubungan keterpautan antara pekerjaan-pekerjaan tersebut. Tenaga kerja yang melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut juga saling berkaitan dalam satu hubungan ketergantungan. Mereka saling memerlukan dan saling mempengaruhi.
Likert (1961,1967) berpendapat bahwa organisasi dapat dipandang sebagai sistem dari kelompok yang saling berkaitan.
Robbins (1988:71), kelompok terdiri dari dua atau lebih orang, yang saling mempengaruhi dan saling tergantung, yang datang bersama-sama untuk mencapai sasaran tertentu.
Secara Struktural, kelompok dapat dibedakan kedalam kelompok formal dan informal. Kelompok formal di beri batasan oleh struktur organisasi, yang berisi rincian tugas-tugas pekerjaan dan tanggung jawab tertentu, yang pelaksanaanya akan menuju ke tercapaiannya sasaran dan misi keseluruhan 1 organisasinya. kelompok informal tidak diberi batasan oleh struktur organisasi dan terjadi secara spontan antara sejumlah tenaga kerja, sebagai jawaban terhadap kebutuhan tertentu dari mereka.
Makna dan Fungsi Kelompok
Jika ditinjau dari sudut pandangan pimpinan organisasi industri, pimpinan dari sejumlah kelompok kerja yang saling berkaitan, maka kelompok kerja dinilai baik jika memenuhi kebutuhan dan harapan.
- Fungsi Kelompok bagi Anggotanya
- Fungsi kelompok sebagai pemenuh kebutuhan para anggotanya
Kelompok dapat mengurangi rasa ketidakamanan, ketidakpastian. Kelompok menimbulkan rasa mampu mengatasi ancaman terhadap dirinya. Kelompok dapat memberikan rasa kepastian pada diri seseorang. Kelompok dapat memenuhi keinginan untuk berhubungan dengan orang lain, akan rasa diperhatikan dan diterima oleh kelompok. Kelompok juga memberikan pemenuhan terhadap kebutuhan akan kekuasaan. Kelompok dapat merangsang anggotanya untuk mencapai prestasi yang bermutu. - Fungsi kelompok sebagai pengembang, penunjang dan pemantap dari identitas dan pemeliharaan dari harga diri Identitas kelompok kerja dikembangkan berdasakan tugas pekerjaannya untuk menunjang dan memantapkan identitas setiap anggota kelompoknya. Selanjutnya identitas anggotanya memelihara harga diri mereka.
- Fungsi kelompok sebagai penetapan dan penguji kenyataan/realitas sosial
Melalui diskusi dengan orang lain dan pengembangan dari perspektif dan konsensus, kita dapat mengurangi ketidakpastian dalam lingkungan sosial kita. Persepsi kelompok memberikan kepastian kepada para anggota kelompok lepas dari benar tidaknya, tepat tidaknya pandangan tersebut. Jika kelompok menganggap suatu keadaan nyata, maka keadaan tersebut nyata dan akan menimbulkan akibat yang nyata. - Fungsi kelompok sebagai mekanisme pemecahan masalah dan pelaksanaan tugas Kelompok dapat membantu memecahkan masalah, yang di alami oleh salah satu anggota kelompoknya, dengan pengumpulan data yang diperlukan atau memberi alternatif penyelesaian. Para anggota dapat saling mengisi dalam usaha dan sumbangan mereka memecahkan masalah kelompoknya.
- Fungsi Kelompok bagi Organisasi
- Fungsi kelompok sebagai pelaksana tugas yang majemuk dan saling tergantung Ada tugas pekerjaan yang dapat diselesaikan oleh sseorang, namun cukup banyak tugas yang majemuk, tidak dapat dikerjakan sendiri.
- Fungsi kelompok sebagai mekanisme pemecahan masalah Jika masalahnya membutuhkan pengolahan yang majemuk, interaksi antar anggota dapat menjadi pertimbangan alternatif penyelesaian masalah yang paling baik.
- Fungsi kelompok sebagai penghasil gagasan baru dan jawaban kreatif Jika ada data yang di perlukan tersebar pada beberapa orang di perlukan kerja sama para anggota kelompok untuk menjadi kreatif.
- Fungsi kelompok sebagai pelancar dari pelaksanaan keputusan yang majemuk Jika telah di ambil keputusan yang majemuk, maka akan bermanfaat untuk membentuk kelompok yang terdiri dari negara kerja dari berbagai devisi untuk merencanakan dan memantau pelaksanan keputusan.
- Fungsi kelompok sebagai wahana dari sosialisasi dan pelatihan Para tenaga kerja baru dapat dikumpulkan dalam satu kelompok untuk diberi pelatihan orientasi untuk dapat memperlancar proses sosialisasi.
- Fungsi kelompok sebagai penghubung atau koordinator utama antar beberapa departemen Untuk mengurangi gangguan komunikasi timbulnya konflik maka dapat di bentuk kelompok sementara yang terdiri dari berbagai bagian.
Interaksi antar anggota kelompok
- Proses kelompok
Fiedle rmemberikan tipologi dari kelompok kerja yang didasarkan pada sifat dan intensitas interaksi:
- Interacting Groups Pada kelompok ini, para anggota kelompok saling tegantung dan tindakan mereka perluy dikerjakan dan di susun bersama untk dapat menyelesaikan tugas kelompok dengan baik
- Co-acting Groups Anggota kelompok ini berkerja sama dalam melaksanakan tugas kelompok, tapi masing-masing melaksanakan pekerjaanya relative tidak salaing bergantung
- Counter-acting Groups Para anggota kelompok berkerja sama untuk tujuan perundingan dan memanfaatkan sasaran dan tuntutan yang bertentangan. Biasanya kelompok ini hanya bersifat sementara dimana pembentukan dari kelompok ini biasanya disebabkan karena adanya masalah antar kelompok.
- Gejala dalam proses kelompok
- Tahap ‘Pathfinfing Pada tahap ini para pimpinan harus mampu mengolah data yang ada untuk dapat memelihara dan mengambangkan organisasinya. Pada tahapp ini diperlukan pemikiran yang kreatif dan berbeda, serta vision seseorang terhadap perusahaan di masa depan
- Tahap Pemecahan Masalah Para anggota kelompok harus dapat memecahakan masalah yang ada.
- Tahap Implementasi Pada tahap ini mencakup kegiatan membantuk, menyusun, menjual, membuat sesuatu terjadi. Pada tahap ini setiap anggota kelompok mulai mengerjakan tugasnya masing-masing.
a. Konfornisne
Konformisme merupakan kebiasan yang muncul akibat kita telah lama
bergabung pada suatu keloompok seperti, memanggil bapak atau ibu, diam saat
rapat dll.
b. Kelekatan
Faktor-faktor yang ikut menentukan derajat kelekatan kelompok ialah:
1. Lamanya
waktu berbeda bersama dalam kelompok
2. Parahnya
masa awal
3. Besarnya
kelompok
4. Ancaman
dari luar
5. Keberhasilan
di masa lalu
c. Sinergi
Sinergi merupakan gejala dimana keputusan yang diambil kelompok merupakan
keputusan yang lebih baik daripada keputusan sendiri. Sinergi bisa terjadi jika
para anggota kelompok memberikan semua data yang mereka miliki, sehingga jumlah
data yang terkumpul lebih banyak dari data yang kita miliki sendiri.
d. Groupthink
Gejala yang merupakan kelemahan dari sebuah kelompok dimana kelompok
menjadi berfikir sama. ini dikarenakan kelompok diminan akan menentang kelompok
yang menjadi minoritas sehingga memungkinkan keputusan yang diambil kelompok
tidak berdasarkan analisi yang cermat.
Janis menjabarkan gejala berpikir kelompok secara berurutan sebagai
berikut:
1. Kelpompok
memiliki ilusi bahwa mereka kebal
2. Kelompok
terlibat dalam rasionalisasi kolektif untuk memotong informasi yang berbeda
3.Kelompok
mulai percaya pada moralitas inheren tentang apa yang ingin dilakukan
4. Kelompok
mengembangkan stereotip dari kelompok lain dan dari para penantang, sehingga
melindungi diri dari analisis yang cermat
5. Kelompok
memberi tekanan langsung kepada para penentang untuk membuat diam mereka
6. Para
anggota kelompok mulai menyensor pemikiran mereka sendiri, terutama tentang
keraguan yang mungkin mereka miliki tentang kearifan dari tindakan yang
diusulkan
7.Kelompok
mulai percaya akan kebetulan kesepakatan karena tidak ada penentangan dan
kepercayaan bahwa “diam berarti menyetujui”
8.Beberapa
anggota dari kelompok mulai berfungsi sebagai”penjaga pikiran” penjaga yang
“melindungi” para pemimpin dari pandangan yang menyimpang dengan menjerakan
secara aktif para penentang untuk mengungkapkan ketidak setujuan mereka.
Gejala group think ini hanya terjadi jika:
1. Memiliki
kelekatan yang tinggi
2.Terasing
dari kelompok lain dengan pandangan yang berbeda
3.Tidak
memiliki metodologikal untuk mengkaji dan memilih informasi waban alternative
yang relevan
4.Tidak
memiliiki prosedur yang sistematis untuk menilai alternative-alternatif
5. Memiliki
pimpinan otoriter yang kuat
e. Polarisasi
kelompok
Gejala dimana ada 2 keputusan yang saling bertentangan dimana keputusan
yang memiliki resiko tinggi dan memiliki resiko renda. Fincham dan Rhodes
mengemukakan kemungkinan terjadinya gelaja tersebut:
1. Adanya
tanggung jawab yang tersebar
2. Beroperasinya
proses perbanndingan sosial
3. Pertukaran
informasi dan argument yang meyakinkan
Interaksi antar kelompok
- Konflik antar kelompok
Ada
beberapa hal yang muncul saat terjadi konflik antar kelompok
a. Yang
terjadi didalam kelompok yang bersaing
1. Setiap
kelompok menjadi lebih menutup diri dan membangkitkan loyalitas yang lebih besar
dari para anggota kelompokny
2. Suasana
kelompok berubah dari informal, ceria, santai menjadiberorientasi pada kerja
dan tugas
3. Pola
kepemimpinan cenderung berubah dari lebih demokrasi menjadi lebih otokratis
4. Setiap
kelompok menjadi lebih berstruktur dan terorganisasi
5. Setiap
kelompok menuntut kesetiaan dan konformitas yang lebih besar dari para
anggotanya agar mampu mendirikan barsian yang lebih tangguh
b. Yang
terjadi antara kelompok yang bersaing
1. Setiap
kelompok mulai melihat kelompok lain lebih sebagai musuh
2. Setiap
kelompok meulai mengalami gangguan dalam persepsi
3. Rasa
bermusuhan dengan kelompok lain meningkat
4. Jika
dipaksa untuk berinteraksi, cendurung untuk mendengarkan kelompoknya sendiri
atau mencari kesalahan kelompok lain
c. Yang
terjadi dengan kelompok yang menang
1. Pemenang
mempertahankan kelekatanya
2. Pemenang
cenderung menjadi lebih santai
3. Pemenang
cenderung mengarah pada kerja sama antar anggota kelompok dan kebutuhan anggota
kelompoknya
4. Pemenang
cenderung menjadi lebih puas dan merasa bahwa hasil positif telahmengkonfirmasi
stereotip yang lebih baikdari mereka sendiri dan setereotip yang negative
dengan kelompok pesaing
d. Yang
terjadi dengan kelompok yang kalah
1. Jika
hasilnya tidak jelas, kelompok yang kalah cenderung untuk menolak hasilnya
2. Jika
di terimas secara psikologik, kelompok yang kalah cenderung mencari seseorang
atau sesuatu untuk disalahkan
3. Menjadi
lebih tegang, bersiap untuk lebih keras, dan merasa tidak ada harapan
4. Cenderung
mengarah pada kerjasama kelompok yang rendah
5. Kelompok
yang kalah akan mereorganisir diri dan menjadi lebih dekat dan efektif
- Teknik-teknik mengurangi akibat negative dari saingan
Schein
memberikan beberapa thenik yang dapat digunakan untuk mengurangi akibat
negative dari saingan:
a. Menemukan
musuh bersama
b. Pemimpin
atau subkelompok dari kelompok-kelompok yang bersaingandibawa berinteraksi
c. Menemukan
tujuan yang mencakup
d. Pelatihan
antar kelompok melalui penghayatan pengalaman
- Dimensi dari intensi menyelesaikan konflik
1. Bersaing
2. Berkerja
sama
3. Berkompromi
4. Menghindar
5. Menyesuaikan
