Senin, 26 September 2016

Organisasi dan Kelompok Kerja dalam Psikologi Industri dan Organisasi

Kali ini saya akan membahas mengenai "Organisasi dan kelompok". Sebelum saya membahas lebih jauh, alangkah baiknya jika saya memberi gambaran secara Mindmap mengenai pembahasan ini. Agar dengan mudah kamu memahami setiap subab yang ada.


 

Pengantar

Telah dikemukakan bahwa Organisasi (industri) dapat kita pandang sebagai suatu sistem yang terbuka, yaitu : “suatu kesatuan keseluruhan yang terorganisasi, yang terdiri dari dua atau lebih komponen atau subsistem. Kast & Rosenzweig memandang organisasi industri sebagai sistem sosio-teknikal, artinya sistem yang memiliki aspek-aspek sosial dan teknikal.

Organisasi industri terdiri darimkelompok-kelompok manusia (subsistem/komponen sosial) yang saling berinteraksi, yang batasnya dengan lingkungannya dapat ditemukenali, yang secara sambung menyambung berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam bab ini akan membahas kelompok manusia tenaga kerja, pengertiannya, jenis struktur, fungsi-fungsi dan prosesnya, interaksi antaranggota kelompok, dan interaksi antarkelompok.

Pengertian
Dalam setiap kelompok dimana kita menjadi anggota, kita memainkan peran yang berbeda-beda, dengan tugas dan tanggung jawab yang berbeda-beda. Kita berada dalam interaksi yang bersinambung dengan lingkungan kita, khususnya orang-orang yang berada langsung disekitar kita.

Kelompok sosial yang akan dibahas adalah kelompok sosial yang berada dalam suatu organisasi kerja. Bagaimana timbulnya kelompok kerja tidak dapat dipisahkan dari proses timbulnya organisasi kerja atau organisasi industri.

Pemecahan satu pekerjaan dengan segala macam aspeknya menjadi berbagai macam pekerjaan yang menunjukkan adanya hubungan keterpautan antara pekerjaan-pekerjaan tersebut. Tenaga kerja yang melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut juga saling berkaitan dalam satu hubungan ketergantungan. Mereka saling memerlukan dan saling mempengaruhi.

Likert (1961,1967) berpendapat bahwa organisasi dapat dipandang sebagai sistem dari kelompok yang saling berkaitan.

Robbins (1988:71), kelompok terdiri dari dua atau lebih orang, yang saling mempengaruhi dan saling tergantung, yang datang bersama-sama untuk mencapai sasaran tertentu.

Secara Struktural, kelompok dapat dibedakan kedalam kelompok formal dan informal. Kelompok formal di beri batasan oleh struktur organisasi, yang berisi rincian tugas-tugas pekerjaan dan tanggung jawab tertentu, yang pelaksanaanya akan menuju ke tercapaiannya sasaran dan misi keseluruhan 1 organisasinya. kelompok informal tidak diberi batasan oleh struktur organisasi dan terjadi secara spontan antara sejumlah tenaga kerja, sebagai jawaban terhadap kebutuhan tertentu dari mereka. 

 Makna dan Fungsi Kelompok
Jika ditinjau dari sudut pandangan pimpinan organisasi industri, pimpinan dari sejumlah kelompok kerja yang saling berkaitan, maka kelompok kerja dinilai baik jika memenuhi kebutuhan dan harapan.
  • Fungsi Kelompok bagi Anggotanya  
  1. Fungsi kelompok sebagai pemenuh kebutuhan para anggotanya
    Kelompok dapat mengurangi rasa ketidakamanan, ketidakpastian. Kelompok menimbulkan rasa mampu mengatasi ancaman terhadap dirinya. Kelompok dapat memberikan rasa kepastian pada diri seseorang. Kelompok dapat memenuhi keinginan untuk berhubungan dengan orang lain, akan rasa diperhatikan dan diterima oleh kelompok. Kelompok juga memberikan pemenuhan terhadap kebutuhan akan kekuasaan. Kelompok dapat merangsang anggotanya untuk mencapai prestasi yang bermutu. 
  2. Fungsi kelompok sebagai pengembang, penunjang dan pemantap dari identitas dan pemeliharaan dari harga diri Identitas kelompok kerja dikembangkan berdasakan tugas pekerjaannya untuk menunjang dan memantapkan identitas setiap anggota kelompoknya. Selanjutnya identitas anggotanya memelihara harga diri mereka.
  3. Fungsi kelompok sebagai penetapan dan penguji kenyataan/realitas sosial
    Melalui diskusi dengan orang lain dan pengembangan dari perspektif dan konsensus, kita dapat mengurangi ketidakpastian dalam lingkungan sosial kita. Persepsi kelompok memberikan kepastian kepada para anggota kelompok lepas dari benar tidaknya, tepat tidaknya pandangan tersebut. Jika kelompok menganggap suatu keadaan nyata, maka keadaan tersebut nyata dan akan menimbulkan akibat yang nyata.
  4. Fungsi kelompok sebagai mekanisme pemecahan masalah dan pelaksanaan tugas Kelompok dapat membantu memecahkan masalah, yang di alami oleh salah satu anggota kelompoknya, dengan pengumpulan data yang diperlukan atau memberi alternatif penyelesaian. Para anggota dapat saling mengisi dalam usaha dan sumbangan mereka memecahkan masalah kelompoknya.  

  •  Fungsi Kelompok bagi Organisasi
  1. Fungsi kelompok sebagai pelaksana tugas yang majemuk dan saling tergantung  Ada tugas pekerjaan yang dapat diselesaikan oleh sseorang, namun cukup banyak tugas yang majemuk, tidak dapat dikerjakan sendiri. 
  2. Fungsi kelompok sebagai mekanisme pemecahan masalah Jika masalahnya membutuhkan pengolahan yang majemuk, interaksi antar anggota dapat menjadi pertimbangan alternatif penyelesaian masalah yang paling baik.
  3. Fungsi kelompok sebagai penghasil gagasan baru dan jawaban kreatif Jika ada data yang di perlukan tersebar pada beberapa orang di perlukan kerja sama para anggota kelompok untuk menjadi kreatif. 
  4. Fungsi kelompok sebagai pelancar dari pelaksanaan keputusan yang majemuk Jika telah di ambil keputusan yang majemuk, maka akan bermanfaat untuk membentuk kelompok yang terdiri dari negara kerja dari berbagai devisi untuk merencanakan dan memantau pelaksanan keputusan. 
  5. Fungsi kelompok sebagai wahana dari sosialisasi dan pelatihan  Para tenaga kerja baru dapat dikumpulkan dalam satu kelompok untuk diberi pelatihan orientasi untuk dapat memperlancar proses sosialisasi.
  6. Fungsi kelompok sebagai penghubung atau koordinator utama antar beberapa departemen Untuk mengurangi gangguan komunikasi timbulnya konflik maka dapat di bentuk kelompok sementara yang terdiri dari berbagai bagian. 
Interaksi antar anggota kelompok

  • Proses kelompok
Organisasi industri terdiri dari sejumlah kelompok kerja yang saling berkaitan dalam suatu tingkatan tertentu. Setiap kelompok kerja terdiri dari sejumlah tenaga kerja yang saling mempengaruhi dan saling tergantung. Kelompok kerja yang memiliki ketergantungan tinggi memiliki interaksi antar kelompok yang tinggi begitu juga sebaliknya.
Fiedle rmemberikan  tipologi dari kelompok kerja yang didasarkan pada sifat dan intensitas interaksi:
  1. Interacting Groups Pada kelompok ini,  para anggota kelompok saling tegantung dan tindakan mereka perluy dikerjakan dan di susun bersama untk dapat menyelesaikan tugas kelompok dengan baik 
  2. Co-acting Groups Anggota kelompok ini berkerja sama dalam melaksanakan tugas kelompok, tapi masing-masing melaksanakan pekerjaanya relative tidak salaing bergantung 
  3. Counter-acting Groups Para anggota kelompok berkerja sama untuk tujuan perundingan dan memanfaatkan sasaran dan tuntutan yang bertentangan. Biasanya kelompok ini hanya bersifat sementara dimana pembentukan dari kelompok ini biasanya disebabkan karena adanya masalah antar kelompok.  

  • Gejala dalam proses kelompok
Leavitt memberikan pandangan bahwa proses manajemen dapat dibagi kedalam 3 tahap: 
  1. Tahap ‘Pathfinfing Pada tahap ini para pimpinan harus mampu mengolah data yang ada untuk dapat memelihara dan mengambangkan organisasinya. Pada tahapp ini diperlukan pemikiran yang kreatif dan berbeda, serta vision seseorang terhadap perusahaan di masa depan 
  2. Tahap Pemecahan Masalah  Para anggota kelompok harus dapat memecahakan masalah yang ada. 
  3. Tahap Implementasi Pada tahap ini mencakup kegiatan membantuk, menyusun, menjual, membuat sesuatu terjadi. Pada tahap ini setiap anggota kelompok mulai mengerjakan tugasnya masing-masing. 
Dalam proses kelompok, dimana para anggota kelompok kerja berinterkasi dan dimana kelompok melaksanakan fungsinya, dapat kita ermukan timbulnya gejala-gejala sebagai berikut:

a. Konfornisne
Konformisme merupakan kebiasan yang muncul akibat kita telah lama bergabung pada suatu keloompok seperti, memanggil bapak atau ibu, diam saat rapat dll.
b. Kelekatan
Faktor-faktor yang ikut menentukan derajat kelekatan  kelompok ialah:
1. Lamanya waktu berbeda bersama dalam kelompok
2. Parahnya masa awal
3. Besarnya kelompok
4. Ancaman dari luar
5. Keberhasilan di masa lalu
c. Sinergi
Sinergi merupakan gejala dimana keputusan yang diambil kelompok merupakan keputusan yang lebih baik daripada keputusan sendiri. Sinergi bisa terjadi jika para anggota kelompok memberikan semua data yang mereka miliki, sehingga jumlah data yang terkumpul lebih banyak dari data yang kita miliki sendiri.
d. Groupthink
Gejala yang merupakan kelemahan dari sebuah kelompok dimana kelompok menjadi berfikir sama. ini dikarenakan kelompok diminan akan menentang kelompok yang menjadi minoritas sehingga memungkinkan keputusan yang diambil kelompok tidak berdasarkan analisi yang cermat.
Janis menjabarkan gejala berpikir kelompok secara berurutan sebagai berikut:
1. Kelpompok memiliki ilusi bahwa mereka kebal
2. Kelompok terlibat dalam rasionalisasi kolektif untuk memotong informasi yang berbeda
3.Kelompok mulai percaya pada moralitas inheren tentang apa yang ingin dilakukan
4. Kelompok mengembangkan stereotip dari kelompok lain dan dari para penantang, sehingga melindungi diri dari analisis yang cermat
5. Kelompok memberi tekanan langsung kepada para penentang untuk membuat diam mereka
6. Para anggota kelompok mulai menyensor pemikiran mereka sendiri, terutama tentang keraguan yang mungkin mereka miliki tentang kearifan dari tindakan yang diusulkan
7.Kelompok mulai percaya akan kebetulan kesepakatan karena tidak ada penentangan dan kepercayaan bahwa “diam berarti menyetujui”
8.Beberapa anggota dari kelompok mulai berfungsi sebagai”penjaga pikiran” penjaga yang “melindungi” para pemimpin dari pandangan yang menyimpang dengan menjerakan secara aktif para penentang untuk mengungkapkan ketidak setujuan mereka.
Gejala group think ini hanya terjadi jika:
1. Memiliki kelekatan yang tinggi
2.Terasing dari kelompok lain dengan pandangan yang berbeda
3.Tidak memiliki metodologikal untuk mengkaji dan memilih informasi waban alternative yang relevan
4.Tidak memiliiki prosedur yang sistematis untuk menilai alternative-alternatif
5. Memiliki pimpinan otoriter yang kuat
e.  Polarisasi kelompok
Gejala dimana ada 2 keputusan yang saling bertentangan dimana keputusan yang memiliki resiko tinggi dan memiliki resiko renda. Fincham dan Rhodes mengemukakan kemungkinan terjadinya gelaja tersebut:
1.      Adanya tanggung jawab yang tersebar
2.      Beroperasinya proses perbanndingan sosial
3.  Pertukaran informasi dan argument yang meyakinkan



Interaksi antar kelompok  

  • Konflik antar kelompok

Ada beberapa hal yang muncul saat terjadi konflik antar kelompok
a. Yang terjadi didalam kelompok yang bersaing
1. Setiap kelompok menjadi lebih menutup diri dan membangkitkan loyalitas yang lebih besar dari para anggota kelompokny
2. Suasana kelompok berubah dari informal, ceria, santai menjadiberorientasi pada kerja dan tugas
3. Pola kepemimpinan cenderung berubah dari lebih demokrasi menjadi lebih otokratis
4. Setiap kelompok menjadi lebih berstruktur dan terorganisasi
5. Setiap kelompok menuntut kesetiaan dan konformitas yang lebih besar dari para anggotanya agar mampu mendirikan barsian yang lebih tangguh
b. Yang terjadi antara kelompok yang bersaing
1. Setiap kelompok mulai melihat kelompok lain lebih sebagai musuh
2. Setiap kelompok meulai mengalami gangguan dalam persepsi
3. Rasa bermusuhan dengan kelompok lain meningkat
4. Jika dipaksa untuk berinteraksi, cendurung untuk mendengarkan kelompoknya sendiri atau mencari kesalahan kelompok lain
c. Yang terjadi dengan kelompok yang menang
1.  Pemenang mempertahankan kelekatanya
2.  Pemenang cenderung menjadi lebih santai
3.  Pemenang cenderung mengarah pada kerja sama antar anggota kelompok dan kebutuhan anggota kelompoknya
4. Pemenang cenderung menjadi lebih puas dan merasa bahwa hasil positif telahmengkonfirmasi stereotip yang lebih baikdari mereka sendiri dan setereotip yang negative dengan kelompok pesaing
d. Yang terjadi dengan kelompok yang kalah
1. Jika hasilnya tidak jelas, kelompok yang kalah cenderung untuk menolak hasilnya
2. Jika di terimas secara psikologik, kelompok yang kalah cenderung mencari seseorang atau sesuatu untuk disalahkan
3. Menjadi lebih tegang, bersiap untuk lebih keras, dan merasa tidak ada harapan
4. Cenderung mengarah pada kerjasama kelompok yang rendah
5. Kelompok yang kalah akan mereorganisir diri dan menjadi lebih dekat dan efektif


  • Teknik-teknik mengurangi akibat negative dari saingan

Schein memberikan beberapa thenik yang dapat digunakan untuk mengurangi akibat negative dari saingan:
a. Menemukan musuh bersama
b. Pemimpin atau subkelompok dari kelompok-kelompok yang bersaingandibawa berinteraksi
c. Menemukan tujuan yang mencakup
d. Pelatihan antar kelompok melalui penghayatan pengalaman


  • Dimensi dari intensi menyelesaikan konflik
Dalam intensi menyelesaikan konflik dapat di diperoleh dengtan 5 cara:
1.      Bersaing

2.      Berkerja sama

3.      Berkompromi

4.      Menghindar

5.      Menyesuaikan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar